Saya salut dengan seorang teman. Ia mampu melakukan berbagai hal yang belum mampu saya jangkau. sekilas saya melihatnya bukanlah seseorang yang begitu istimewa. Ia memiliki rekam jejak pendidikan yang biasa-biasa saja, dari keluarga yang biasa pula serta sarapannya adalah asupan yang biasa . Semuanya tentangnya hanyalah biasa-biasa saja. Tidak ada yang lebih.

Tapi itu adalah pembahasan sebelum anda mengenalnya. Tatkala anda sudah menjadi sahabatnya serta mengetahui seluk beluk tentang dirinya, anda akan kagum. Kagum sekagum-kagumnya. Ia adalah orang yang “begitu berani” bercakap-cakap dan bersenda gurau dengan orang mesir walau pengetahuan bahasa amiyahnya “hancur “, ia adalah orang yang berani nonton bola sebangku dengan orang mesir walau orang tersebut belum pernah di kenalnya dan tempat itu baru kali tersebut dikunjunginya, ia begitu mudah akrab dengan orang yang baru di jumpainya, ia mampu mencairkan suasana, baik di perkumpulan anak muda maupun halaqah orang tua, ketika ada sesuatu hal yang tidak ingin anda ceritakan ia mampu membuat anda mengungkapkannya.Bagi saya secara pribadi ia adalah sahabat yang ada jika saya membutuhkannya. Ia tak sungkan membantu. Pernah suatu kali saya kepepet harus menelepon ke kampung halaman, sedang pulsa telepon luar negeri milik saya telah habis total. Ingin membeli pun stock pada penjualnya telah habis. saya kebingungan. akhirnya dengan malu-malu saya meminta bantuannya. Ia dengan sangat baik membagi pulsa telepon luar negerinya tanpa takut saya akan benar-benar menghabiskannya. Subhanallah. Banyak lagi keistimewaannya yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Entahlah, saya belum mendapati orang lain sepertinya. Hanya dia. Ia begitu khas dan blak-blakan.

Tatkala ia kehabisan kata-kata menghadapi kalimat demi kalimat amiyah yang dilancarkan orang mesir, maka ekspresinya akan bermain. Apakah tangannya akan bergerak-gerak menjelaskan atau alis dan bibirnya akan menari seirama dengan hal yang ingin disampaikannya.

Sebenarnya, perkenalan saya dengannya belumlah berlangsung lama. Baru lima bulan yang lalu saya tahu rupa wajahnya, setelah hanya melihat namanya di daftar kelulusan calon mahasiswa Al-azhar tahun ajaran 2009/2010. Awal perkenalan, ia agak lebih banyak berdiam diri. tidak banyak mengobrol dengan sahabat-sahabat yang lain, baik kepada ikhwan terlebih lagi kepada akhwat. Mungkin “aura” pondok masih sangat melekat padanya. Sehingga masih takut berbincang dengan akhwat, walaupun untuk hal yang penting, atau mungkin karena tidak lebih dulu mengenal teman-teman tersebut. Berbeda dengan saya yang memang sudah duluan mengenal beberapa orang dari mereka tak lain karena mereka adalah sahabat seangkatan saya dan adik kelas di ma’had dulu. Tapi itu hanyalah hipotesa saya, sedang jawaban sebenarnya adalah dalam hatinya dan tidak diberitahukan kepada siapapun.

Satu hal lagi yang saya kagumi darinya adalah keistiqamahannya, ketika ia mengatakan akan berhenti dari sesuatu -tidak bisa saya sebutkan- ia benar-benar telah berhenti dan tidak melakukannya lagi. Walau kesempatan itu ada. saya sangat bersyukur kepada Allah azza wajalla mampu mengenalnya, mampu menjadi sahabat baginya. semoga Allah memberikan selalu keselamatan dan kebaikan padanya serta persahabatan ini menjadi ukhuwah abadi yang tak terpisahkan oleh waktu dan badai perpecahan. Amin ya Rabb. Allah Yaftah ‘alaik ya akhuya.^_^